gaming daily – Dalam beberapa tahun terakhir, seri Assassin’s Creed mengalami banyak perubahan besar—mulai dari sistem RPG yang kompleks hingga dunia terbuka yang sangat luas. Namun, kehadiran Assassin’s Creed Mirage menjadi angin segar bagi para penggemar lama yang merindukan gameplay klasik yang lebih fokus, stealth, dan penuh strategi.
Dirilis oleh Ubisoft, game ini membawa pemain kembali ke akar dari franchise Assassin’s Creed, dengan pendekatan yang lebih sederhana namun tetap mendalam. Mirage tidak hanya sekadar game baru, tetapi juga sebuah bentuk nostalgia yang dikemas dengan teknologi modern.
Kembali ke Masa Lalu: Latar Baghdad yang Hidup
Salah satu daya tarik utama dari Assassin’s Creed Mirage adalah latarnya yang mengambil tempat di kota Baghdad pada abad ke-9, saat masa kejayaan Kekhalifahan Abbasiyah. di kutip tempo.co kota ini digambarkan dengan detail luar biasa mulai dari pasar yang ramai, gang sempit, hingga bangunan megah yang mencerminkan arsitektur Timur Tengah klasik.
Lingkungan dalam game terasa hidup. NPC berinteraksi secara dinamis, aktivitas warga berlangsung alami, dan suasana kota berubah sesuai waktu. Ini membuat pemain benar-benar merasa berada di dunia yang autentik.

Tidak seperti seri sebelumnya yang memiliki peta sangat luas, Mirage menawarkan dunia yang lebih kecil namun padat. Pendekatan ini membuat eksplorasi terasa lebih fokus dan tidak melelahkan.
Dalam game ini, kamu akan memainkan karakter Basim Ibn Ishaq, seorang pemuda jalanan yang berjuang untuk bertahan hidup di Baghdad. Cerita Mirage berfungsi sebagai prekuel, menjelaskan latar belakang Basim sebelum ia muncul di Assassin’s Creed Valhalla.
Perjalanan Basim dimulai dari seorang pencuri biasa hingga akhirnya direkrut oleh organisasi Assassin. Sepanjang cerita, kamu akan menyaksikan konflik batin, misteri masa lalu, dan perkembangan karakter yang cukup emosional.
Gameplay Klasik: Stealth Jadi Raja
Salah satu hal yang paling dirindukan oleh fans lama akhirnya kembali: gameplay berbasis stealth. Mirage mengurangi elemen RPG seperti leveling berlebihan dan menggantinya dengan pendekatan klasik yang mengutamakan strategi dan kesabaran.
Kamu tidak bisa sembarangan menyerang musuh secara frontal. Sistem pertarungan dibuat lebih menantang, sehingga pemain didorong untuk mengendap, memanfaatkan lingkungan, dan menyerang secara diam-diam.
Baca juga : 5 Game Action Adventure Offline Paling Gahar 2026: Gameplay Nagih Tanpa Internet!
Parkour yang Lebih Fluid dan Natural
Salah satu aspek yang sangat diperhatikan dalam Mirage adalah sistem parkour. Ubisoft benar-benar berusaha mengembalikan sensasi bergerak lincah di atap-atap kota seperti di seri awal Assassin’s Creed.
Gerakan Basim terasa lebih cepat, responsif, dan natural. Transisi antar bangunan, lompatan, serta interaksi dengan lingkungan dibuat lebih mulus. Ini membuat eksplorasi kota Baghdad menjadi sangat menyenangkan.
Tidak hanya sebagai alat mobilitas, parkour juga menjadi bagian penting dari strategi stealth. Kamu bisa menghindari musuh, mencari jalur alternatif, atau melakukan serangan dari atas dengan lebih efektif.
Kesimpulan: Nostalgia yang Dibungkus Modernitas
Assassin’s Creed Mirage bukan sekadar game baru—ini adalah bentuk penghormatan terhadap akar franchise yang telah lama dicintai. Dengan fokus pada stealth, cerita yang kuat, dan dunia yang imersif, game ini berhasil menghadirkan pengalaman yang berbeda dari seri sebelumnya.
Ubisoft tampaknya mendengarkan masukan para penggemar dan menghadirkan sesuatu yang benar-benar mereka rindukan. Hasilnya adalah game yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bermakna bagi perjalanan panjang Assassin’s Creed.